Kamis, 22 Oktober 2015

Semoga Ada Smartphone Touch Screen yang aksesible untuk Penyandang Tunanetra



Semoga Ada Smartphone Touch Screen yang aksesible untuk Penyandang Tunanetra




     Saya adalah seorang relawan untuk teman-teman penyandang disabilitas, baik tunanetra, tunadaksa maupun tunarungu/wicara. Menjadi seorang relawan tidaklah mudah, karena menyita banyak waktu, tenaga, dan pikiran dan tanpa upah. Hal ini saya libatkan ketika itu duduk di semester pertama di perguruan tinggi di Yogyakarta. Pada awalnya saya tidak menyadari kalau di dalam kelas itu ternyata ada mahasiswa penyandang tunanetra. setelah beberapa minggu saya mulai berinteraksi dengan mahasiswa tunanetra ini, dan saya mulai mengamati kegiatan mereka di luar perkuliahan. Ternyata ada lembaga yang menaungi dan menampung aspirasi serta civitas akademik mereka. Pusat Studi Difabel, itulah nama lembaganya. Kebetulan sekali Lembaga tersebut sedang mengadakan milad alias ulang tahun pertamanya. Salah satu yang menarik di acara tersebut adalah lembaga tersebut menampilkan aksi dan bakat yang dimiliki oleh mahasiswa penyandang tunanetra. kebanyakan acaranya adalah pentas kesenian yang semua alat keseniannya dimainkan oleh mereka yang tunanetra, mulai dari keyboardist, gitaris, basis, drummer, vocalis, dan berbagai pendukung alat musik lainnya semuanya dimainkan oleh mereka dengan piawainya. Hal ini tak mungkin tidak menarik pengunjung, mahasiswa, dan pengguna jalan yang sengaja ataupun tak sengaja lewat di depan panggung outdoor untuk menyempatkan melihat kebolehan mereka.  Dari situlah saya mulai berpikir, kok bisa yah? Mereka mempunyai keterbatasan penglihatan, sementara kelebiihan yang mereka punya jauh lebih banyak daripada saya yang dapat melihat.
     Keheranan saya akan mereka semakin penasaran, sementara saya saja yang pernah belajar gitar dengan melihat kunci-kuncinya saja membutuhkan waktu yang cukup lama dan seringkali lupa karena jarang dipraktekkan. Sementara mereka dengan piwainya memainkan keyboard , gitar, drum, dan lainnya. Tidak hanya itu saja, ketika dalam perkuliahan mereka pun dapat mengerjakan tugas perkuliahannya dengan mandiri, tentu saja di dukung oleh fasilitas yang dapat menunjang serta membantu mereka. Biasanya dosen memberikan tugas perkuliahan kepada semua mahasiswa termasuk mahasiswa tunanetra dengan softcopy maupun hardcopy. Screen Reader pada JAWS adalah software atau aplikasi yang biasa digunakan oleh mahasiswa tunanetra dalam mengerjakan tugas perkuliahan dalam bentuk softcopy. Manfaatnya banyak sekali bagi mahasiswa tunanetra, karena hampir semua dosen belum mampu membaca tulisan asli dari mahasiswa tunanetra yang diketik dalam huruf Braille. Oleh karena itu dengan software JAWS inilah mereka beralih dari tulisan Braille menuju ke Screen Reader JAWS, yang bisa diaplikasikan dengan berbagai format yang aksesibel, baik Microsoft Word Office, Excel, Power Point, maupun lainnya. Kelemahanya baru bisa menarasikan teks dengan bahasa Inggris, belum bisa Bahasa Indonesia.
     Terlebih terkejut lagi ketika mereka bisa berkomunikasi melalui SMS di Handphone mereka, membuatku tambah kepo. Ternyata mereka juga bisa mengirim, menulis, dan membaca SMS layaknya orang yang bisa melihat, hanya saja mereka menggunakan aplikasi Talkback yang dinarasikan, kemudian mereka dapat membaca dengan mendengarkan isi dari teks tersebut. Tentu saja HP nya juga harus yang support dengan aplikasi tersebut dan tulisan atau bahasanya dianjurkan baku dan tidak menggunakan bahasa singkatan seperti anak-anak muda sekarang. Akan tetapi bagi penyandang tunanetra yang sudah terbiasa menggunakan paham akan singkatan-singkatan tersebut. Bagi pengguna yang baru butuh waktu yang lumayan untuk mempelajarinya.  Untuk talkback sendiri sudah bisa akses dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, sehingga lebih mudah dipahami ketika berkomunikasi SMS dengan teman-teman native Indonesia. Pada jaman dahulu mereka masih menggunakan HP yang keypad taktil (keypad fisik) satu tombol isi tiga atau empat huruf berikut tombol angka-angkanya. Seiring berkembangnya teknolgi, keypad Qwerty pun mereka gunakan. Sekarang sedang boomingnya HP yg touchscreen dan jual beli online, yang mana semua itu didukung oleh HP atau Smartphone Android Touchscreen. Seakan dunia sekarang dikuasai dengan Satu Jari. Penyandang tunanetrapun tak boleh ketinggalan teknologi layaknya yang normal. Ingin sekali rasanya diri ini menciptakan teknologi alat bantu bagi penyandang tunanetra tentang aplikasi yang dapat membantu penyandang tunanetra dapat mengakses Smartphone  Touchscreen yang dapat timbul di layar ataupun ada karakter khusus biar dapat diraba dengan mudah, tapi apa daya, kekurangan saya yang gaptek belum bisa mewujudkannya. Semoga saja nanti Smartfen atau ada orang yang mampu menciptakan teknologi tersebut, sehingga penyandang tunanetra dapat menggunakan Smartphone Touchscreennya dengan mudah baik untuk komunikasi pribadi, untuk transaksi usaha jual beli secara online, ataupun akses yang lainnya. Thanks Emak Gaoel bisa ikutin lomba blognya.  Bagi saya Microsoft Word teman setia menulis saya dari mengerjakan tugas kuliah, nge-blog, translate, maupun kepentingan yang lainnya. Go For It




<a href="http://www.emakgaoel.com/2015/09/blog-competition-go-for-it-with-blog.html" target="_blank"><img alt="Go For It Blog Competition" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoJsj-lzl4fv0yWTYT7mVAOcqXaz9XJI1IsjpGAEMHKh5eeL5RE76x01rvDnefg9M1VYeFg5bHVQka9ODj4ADnYhjkzltVYfke6fBNPr0bDTPqeNWOlgL-SAvdTeY5H6bl_exEm_Z2XPY/s1600/go+for+it+1.jpg" title="Go For It Blog Competition" /></a></center>